DiksiNasi, Cikarohel – Di sudut Pasar Manis, Mama Rohel tampak murung.
Perdagangan sepi, persis seperti ramalan pujangga Mataram, Ronggowarsito—pasar ilang kedunge.
Pusat ekonomi rakyat kecil ini mendadak lengang.
Mak Ijah, pedagang sayuran, mengalami penurunan pendapatan drastis dalam dua hari terakhir.
Bukan hanya sulit meraih untung, bahkan modal pun kerap tak kembali.
Pedagang pakaian mengalami nasib serupa—penjualan merosot tajam.
Toko-toko yang berjajar di pasar hanya bisa pasrah.
Tak ada yang membela kepentingan pedagang kecil.
Mereka dibiarkan bertarung sendiri tanpa perlindungan.
“Ramadan tahun ini benar-benar nelangsa. Ke mana para pemimpin? Kenapa membiarkan rakyat sampai begini? UMKM sekarang berubah jadi Usaha Maneh Kumaha Maneh,” bisik Mak Ijah saat Mama Rohel menghampirinya.
“Iya, Mak, semua sedang mengalami kesulitan. Barang memang ada, tapi harganya selangit. Kejahatan keuangan merajalela, begitulah keadaan dunia hari ini,” sahut Mama Rohel.
Negeri ini seolah tak henti dirundung malang.
Baru saja lepas dari pandemi Covid-19 dan kebijakan refocusing anggaran, kini muncul efisiensi yang menekan rakyat kecil.
Akar dari semua bencana ini sejatinya terletak pada segelintir orang kaya yang mengendalikan hajat publik.
Kondisi ini tentu tidak terjadi begitu saja.
Mama Rohel mencoba menelisik ulang pola dari berbagai peristiwa besar.
Dari zaman kerajaan hingga hari ini, kesalahan terbesar selalu bermula dari pemimpin.
“Pemimpin yang kita pilih mencerminkan diri kita sebagai rakyat. Maka, setiap musibah yang datang sejatinya juga kita yang mengundangnya. Ini bukan sekadar kata-kata, tetapi hakikat yang harus kita pahami,” gumam Mama Rohel.