Kontroversi Hasan Nasbi: Antara Candaan dan Seriusnya Teror Kepala Babi

Heboh Pernyataan Hasan Nasbi Soal Teror Kepala Babi, Menuai Kontroversi

banner 468x60

DiksiNasi, Jakarta – Pernyataan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi tentang insiden teror kepala babi kepada wartawan Tempo menuai kritik tajam.

Hasan yang menyarankan agar kepala babi itu “dimasak saja” dianggap mengabaikan seriusnya ancaman terhadap kebebasan pers.

Pernyataan itu keluar dari mulut Hasan saat menjawab wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Jumat, (21/03/2025).

“Sudah dimasak saja, sudah dimasak saja,” ujarnya singkat.

Pernyataan Hasan Nasbi dan Respons Publik

Komentar tersebut langsung memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk aktivis dan politisi.

Al Araf, seorang aktivis hak asasi manusia, meminta Presiden Prabowo Subianto meninjau ulang jabatan Hasan karena pernyataannya meremehkan kebebasan pers.

“Pernyataan seperti itu tidak pantas keluar dari seorang pejabat negara,” tegasnya.

Klarifikasi Hasan Nasbi

Menanggapi gelombang kritik, Hasan Nasbi buru-buru mengklarifikasi pernyataannya.

Ia menyebut ucapannya justru mengikuti reaksi wartawan yang menjadi target teror, Francisca Christy Rosana alias Cica.

“Saya hanya mengutip dari X-nya Francisca, wartawati yang dikirimi kepala babi itu. Saya jarang sepakat dengan Tempo, tapi saya setuju dengan cara Francisca merespons,” kata Hasan. Sabtu (22/03/2025).

Menurut Hasan, teror kepala babi adalah bentuk intimidasi kuno yang tidak lagi efektif.

Ia justru menilai respons santai Cica terhadap ancaman itu sebagai cara terbaik untuk melecehkan balik peneror.

“Kalau saya tahu dia makan daging babi, saya bilang, ya, cara terbaik untuk melecehkan peneror adalah dengan memasaknya,” tambahnya.

Kritik dari Akademisi dan Politisi

Direktur Lingkar Madani, Ray Rangkuti, menganggap pernyataan Hasan tidak hanya mencerminkan dirinya, tetapi juga sikap pemerintah.

banner 336x280