Kontroversi Hasan Nasbi: Antara Candaan dan Seriusnya Teror Kepala Babi

Heboh Pernyataan Hasan Nasbi Soal Teror Kepala Babi, Menuai Kontroversi

banner 468x60

Ia menyarankan Hasan untuk kembali ke dunia akademik, menilai bahwa idealisme dan intelektualisme Hasan sudah luntur sejak terjun ke politik.

“Kembali ke kampus atau dunia akademik mungkin akan membuat bakat, pengetahuan, dan kepuasan intelektual Hasan lebih tercapai,” ujar Ray.

Syahrial Nasution, Deputi Balitbang Partai Demokrat, juga mengkritik Hasan dengan tajam.

Ia menilai pernyataan tersebut miskin etika dan tidak mencerminkan tanggung jawab pejabat negara.

“Membuat pernyataan untuk memasak kepala babi dalam kasus teror terhadap wartawan sangat tidak pantas. Ini mencerminkan sikap yang tidak memahami seriusnya ancaman terhadap kebebasan pers,” kata Syahrial.

Kebebasan Pers dan Peran Pemerintah

Kasus ini semakin mempertegas hubungan kompleks antara pemerintah dan media di Indonesia.

Insiden teror kepala babi sendiri tuai anggapan sebagai ancaman terhadap kebebasan pers.

Sikap pemerintah yang terkesan lepas tangan dalam kasus ini menjadi sorotan.

“Teror terhadap Tempo seperti teror terhadap kebebasan berpendapat. Jika pemerintah mengabaikannya, artinya ada sinyal bahwa kebebasan pers tidak ada jaminan,” ujar Ray Rangkuti.

Hingga kini, belum ada pernyataan lebih lanjut dari pemerintah terkait langkah konkret yang akan timbul untuk menyelidiki pelaku teror tersebut.

Sementara itu, pernyataan Hasan terus menjadi perdebatan di publik, mempertanyakan batas antara candaan dan keseriusan dalam menghadapi ancaman terhadap jurnalis.

banner 336x280