HEBOH! Pernikahan pasangan sesama jenis di Cianjur Bikin Geger, Begini Penjelasan KUA dan Pemerintah Desa

DIKSI NEWS6 Dilihat

DiksiNasinews.co.id, Cianjur – Pernikahan pasangan sesama jenis di Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, menjadi sorotan setelah viral di media sosial. Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sukaresmi, Dadang Abdullah, memberikan penjelasan terkait kasus ini.

“Pasangan itu awalnya ingin menikah secara negara, tetapi salah satunya tidak ada identitas diri dan tidak bisa kami proses,” papar Dadang.

Tidak Memiliki Identitas Valid

Pasangan tersebut awalnya ingin menikah secara resmi, tetapi salah satu dari mereka tidak memiliki identitas diri yang valid, sehingga KUA tidak dapat memprosesnya. Setelah ditolak, mereka meminta izin untuk menikah siri, namun KUA hanya memberikan pembinaan mengenai risiko pernikahan siri.

Memaksa Menikah

Beberapa waktu kemudian, KUA mendapatkan informasi bahwa pasangan tersebut telah menikah tanpa sepengetahuan KUA. Dadang memastikan bahwa pernikahan keduanya terjadi tanpa persetujuan dari pihak KUA, terutama karena identitas salah satu pasangan tidak jelas.

Dadang berjanji untuk meningkatkan pembinaan kepada masyarakat agar dapat mencegah pernikahan sesama jenis di masa mendatang. Semoga hal ini, dapat membantu keluarga dalam mendeteksi identitas calon mempelai sejak awal.

Awal Kedekatan

Kasus ini bermula dari kedekatan antara AD dan CH melalui media sosial, dengan AD mengaku sebagai seorang laki-laki. Namun, beberapa hari setelah pernikahan, terungkap bahwa AD sebenarnya adalah seorang perempuan.

Camat Sukaresmi, Latip Ridwan, menjelaskan bahwa keluarga mulai curiga dengan tingkah AD setelah pernikahan, dan akhirnya terungkap bahwa AD adalah seorang perempuan. Pernikahan sesama wanita ini terbongkar setelah pihak AD enggan menunjukkan identitas.

“Beberapa hari setelah menikah, mempelai laki-laki ini tidak pernah menunjukan identitasnya atau tanda pengenal dan akhirnya terungkap perempuan, bukan laki-laki,” ujar Latip.

Kabar Awal

Awalnya, kabar yang beredar tidak mencakup pernikahan sesama jenis. Desa Pakuon, tempat wanita inisial AD berasal, mendapat informasi bahwa ada pernikahan dengan biaya besar. Setelah pengecekan, ternyata AD memalsukan statusnya sebagai laki-laki untuk menikahi kekasihnya.

Kepala Desa Pakuon Abdullah menjelaskan bahwa awalnya kabar yang beredar bukan pernikahan sesama jenis. Namun, ada seseorang yang meminang perempuan di desanya dengan membawa uang miliaran rupiah.

“Kabar heboh awal itu bukan pernikahan sesama jenis. Tapi ada pernikahan yang kabarnya bakal menghabiskan biaya besar sampai miliaran. Kemudian saya cek, takutnya terjadi sesuatu,” Ujar Abdulloh.

Pemerintah Desa menemui keluarga untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, namun pihak laki-laki tidak dapat menunjukkan identitas diri yang valid. Setelah pernikahan, terungkap bahwa biaya resepsi merupakan hasil pinjaman dari warga.

Kasus Pernikahan pasangan sesama jenis ini, memberikan peringatan tentang pentingnya verifikasi identitas dalam proses pernikahan dan menunjukkan perlunya pembinaan masyarakat untuk mencegah pernikahan sesama jenis.