“Anak-anak harus tahu apa itu Pangrumasan, bagaimana sejarahnya, dan mengapa itu penting. Ini tentang identitas kita sebagai orang Sunda, khususnya Galuh,” tambahnya.
Tantangan dan Harapan
Selain edukasi, tantangan lain yang menjadi kendala adalah minimnya sarana dan prasarana untuk mendukung pengelolaan situs budaya.
Banyak situs yang belum mendapatkan perhatian maksimal, baik dari segi perlindungan maupun pengembangan.
Sekdisbudpora R. Ega Anggara Al Kautsar menegaskan, pendataan ini juga mencakup identifikasi kebutuhan tiap situs untuk memastikan kelestariannya.
“Kami akan melakukan inventarisasi kebutuhan sarana dan prasarana di masing-masing situs, sehingga upaya pelestarian ini tidak berhenti di tataran wacana,” ujarnya.
Mumu dan para juru kunci lainnya berharap, selain pelestarian fisik, perhatian juga lebih kuat pada upaya meningkatkan kesadaran generasi muda.
Dengan memasukkan materi situs budaya dalam kurikulum sekolah, situs-situs ini dapat menjadi sumber pembelajaran yang hidup.
Langkah Awal untuk Masa Depan
Pendataan 1.000 situs budaya ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam melestarikan warisan budaya Galuh.
Melibatkan para penggiat budaya yang memahami seluk-beluk setiap situs, program ini semoga mampu menciptakan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda dalam menjaga identitas budaya.
“Pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama. Dengan pendataan ini, kami berharap situs-situs budaya di Ciamis tidak hanya terjaga, tetapi juga menjadi kebanggaan masyarakat,” pungkas Ega.