Semoga Hawu Panjang Umur !, Siapa yang Suka Menghambur-hamburkan Bahan Bakar?

PURWA DIKSI70 Dilihat
banner 468x60

 

 

banner 336x280

"Di

DiksinasiNews.co.id, PURWADIKSI (HAWU) – Mungkin bagi sebagian orang ada yang masih mengenal properti apa yang ada di dalam gambar yang redakasi bagikan.

Tempat untuk memasak yang terbuat dari beberapa tumpuk batu bata yang diplester dan di aci ini mempunyai bentuk aneka ragam. Ada yang berbentuk bulat, ada juga yang berbentuk kotak dan persegi panjang. Alat masak ini bernama “Hawu”.

Hawu berasal dari kata awu (bahasa Jawa) yang berarti abu, sedangkan abu, bagi masyarakat sunda menyebut lebu. Jadi hawu adalah tempat terkumpulnya abu atau lebu. Masyarakat Jawa Barat (Jabar) atau orang sunda mengenal hawu sebagai tempat perapian untuk masak-memasak.

Di pedesaan atau perkampungan, memang benar masih banyak masyarakat yang menggunakan hawu untuk memasak. Tapi tidak sedikit pula yang sudah beralih ke kompor minyak tanah atau bahkan kompor gas elpiji.

Bahan bakar Hawu adalah suluh (kayu bakar), cuman memanfaatkan ranting, kayu, atau dahan pohon yang jatuh sendiri.
Gadis-gadis cantik sedang mengumpulkan kayu bakar untuk bahan bakar hawu. Indahnya pemandangan ini. Foto : Facebook. Apk : PicsArt. Diksinasi
Gadis-gadis cantik sedang mengumpulkan kayu bakar untuk bahan bakar hawu. Indahnya pemandangan ini. Foto : Facebook. Apk : PicsArt. Diksinasi

Sebagai contohnya yaitu saya sendiri yang masih ingat ketika sekitar tahun 90-an, saat saya masih duduk di bangku SD di Dusun Ancol, Sindangkasih Ciamis mendiang nenenk saya kala itu masih menggunakan hawu.

Pelengkap hawu adalah songsong, (selongsong) yaitu alat berbentuk pipa terbuat dari batang bambu, sebagai alat untuk meniupkan udara ke dalam hawu agar api menyala lebih besar.

Hampir semua warga di kampung saya memiliki kegiatan rutin ngala suluh (mencari kayu bakar) ke kebun atau ke hutan. Biasanya kalau kakek saya membawa satu ikat kayu bakar yang dia suhun (membawa barang di kepala). Tapi sekarang kegiatan seperti itu hampir tidak ada, lantaran pengguna hawu sudah berkurang.

Apabila kita menilai pada masa kini, memang kita akui selain hawu dinilai kurang praktis, yang akan jadi kendala juga karena tidak semua masyarakat memiliki kebun. Dan terhitung jarang warga yang sengaja memelihara pohon albasia atau pohon jeungjing di pekarangan rumah.

Gadis-gadis cantik yang inginkan hawu tetap panjang umur. Foto : Facebook. Apk : PicsArt
Gadis-gadis cantik yang inginkan hawu tetap panjang umur. Foto : Facebook. Apk : PicsArt

 

Perubahan zaman dan pemerintah yang jadi faktor pengaruh

Jadi, benar bahwa masyarakat pedesaan jarang menebang pohon untuk memenuhi kebutuhan hawu di rumah, karena para penggunanya pun tidak terlalu banyak. Paling tidak, masyarakat pengguna hawu tidak akan ngala suluh ke kampung tetangga, kalau sekedar mencari kayu bakar untuk memasak di rumah.

banner 336x280

Komentar