Warganet Dunia Gempar Mengecam Pembakaran Al – Quran di Swedia, Masyarakat Muslim Mengutuk

DIKSI NEWS4 Dilihat

DiksiNasinews.co.id, Swedia – Tindakan pembakaran Al-Qur’an kembali terjadi di Swedia kali ini saat perayaan Idul Adha, namun mendapat kecaman di seluruh dunia termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan warganet mengutuk tindakan tersebut.

Mengutip BBCNews Indonesia, Kementerian Luar Negeri Indonesia dan MUI mengecam aksi provokatif tersebut yang melukai perasaan umat Muslim. Negara-negara mayoritas Muslim seperti Turki, Irak, Iran, Arab Saudi, dan Mesir juga mengutuk kejadian tersebut.

Beberapa warga yang berada di lokasi unjuk rasa menganggap tindakan Salwan Momika, seorang pria asal Irak yang pindah ke Swedia, sebagai bentuk provokasi.

“Kebebasan berekspresi juga harus menghormati nilai dan kepercayaan agama lain. Indonesia, bersama dengan negara anggota OKI di Swedia, telah menyampaikan protes atas kejadian ini,” demikian pernyataan yang ditulis oleh akun @Kemlu_RI.

MUI juga mengutuk aksi tersebut melalui keterangan Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim.

Sudarnoto menyatakan bahwa kebebasan berpendapat dan berekspresi semacam ini merugikan hak-hak warga lain, terutama umat Islam yang seharusnya dilindungi oleh pemerintah dan siapa pun.

“Mengizinkan tindakan yang dilakukan oleh kelompok ekstremis seperti Paludan berarti merusak dan menghancurkan demokrasi dan kedaulatan,” kata Sudarnoto.

Sebelumnya, rangkaian pembakaran Al-Qur’an di Swedia juga dilakukan oleh politikus sayap kanan, Erasmus Paludan. Aksi ini memicu kerusuhan di Swedia.

Sudarnoto meminta Duta Besar Swedia untuk Indonesia memberikan penjelasan yang baik dan menyatakan niat baiknya untuk menangkap orang-orang jahat seperti Paludan, serta memberikan jaminan bahwa tidak akan ada lagi individu atau kelompok yang membenci agama ini di masa depan.

Setelah aksi pembakaran Al-Qur’an dalam protes di Swedia, puluhan orang menyerbu kompleks Kedutaan Swedia di Baghdad, ibu kota Irak.

Massa berkumpul di luar kedutaan di Baghdad pada Kamis (29/06) setelah seorang ulama yang berpengaruh memanggil untuk melakukan protes dengan penuh kemarahan.

Video yang diunggah di media sosial menunjukkan puluhan pengunjuk rasa masuk ke dalam kompleks kedutaan.

Seorang fotografer dari kantor berita AFP yang berada di tempat kejadian mengatakan bahwa massa tersebut masuk ke dalam gedung untuk beberapa saat sebelum akhirnya pergi ketika pasukan keamanan setempat dikerahkan.

Pembakaran Al-Qur’an yang terjadi pada Rabu (28/06) lalu terjadi saat umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha, salah satu hari raya terpenting dalam kalender Islam.

Kepolisian Swedia telah memberikan izin kepada Salwan Momika untuk melakukan protes sesuai dengan undang-undang kebebasan berbicara. Namun, polisi kemudian mengatakan bahwa insiden tersebut sedang diselidiki karena dianggap sebagai tindakan yang menghasut kebencian.

Insiden ini juga memicu kemarahan di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim lainnya, termasuk Turki – anggota NATO yang memiliki hak menentukan keanggotaan Swedia.

Turki, yang juga marah dengan protes pembakaran Al-Qur’an pada awal tahun ini, mengatakan bahwa “tidak bisa diterima” untuk membiarkan tindakan “anti-Islam” semacam itu terjadi “dengan dalih kebebasan berekspresi”.

Presiden Recep Tayyip Erdogan berkata, “Kami pada akhirnya akan mengajari orang Barat yang arogan bahwa menghina Muslim bukanlah kebebasan berpikir”.

Negara-negara Timur Tengah, termasuk Irak, Iran, Arab Saudi, dan Mesir, mengutuk pembakaran tersebut dengan tegas. Maroko dan Yordania telah menarik duta besar mereka dari Stockholm.

Irak menyatakan bahwa insiden tersebut adalah “cerminan semangat agresif yang penuh kebencian yang tidak ada hubungannya dengan kebebasan berekspresi”.

Iran mengkritik Irak dan menyebut tindakan pembakaran Al-Qur’an tersebut “provokatif” dan “tidak dapat diterima”. Sementara itu, Mesir menggambarkannya sebagai tindakan “memalukan” yang sangat provokatif saat umat Islam merayakan Idul Adha.

Arab Saudi, negara yang menjadi tuan rumah bagi sekitar 1,8 juta jamaah haji tahun ini, mengatakan bahwa “tindakan kebencian dan berulang ini tidak bisa diterima dengan alasan apapun”.

Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, mengatakan bahwa pembakaran Al-Qur’an tersebut “legal tapi tidak pantas”.

Aksi pembakaran Al-Qur’an ini telah memicu kerusuhan di Swedia dalam beberapa bulan terakhir.

Polisi telah menolak permohonan aksi protes serupa baru-baru ini, tetapi pengadilan kemudian memutuskan bahwa permohonan tersebut harus diizinkan berdasarkan kebebasan berekspresi.

Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Profesor Komaruddin Hidayat, juga memberikan tanggapan terhadap aksi pembakaran Al-Qur’an yang terjadi di Swedia.

“Al-Qur’an tidak akan hilang dan tetap hidup dalam perjalanan sejarah manusia,” katanya.  Jumat (30/06).

Ketika ditanya apakah aksi pembakaran Al-Qur’an ini dapat memperkuat konservatisme di Indonesia, ia menjawab:

“Setiap bangsa dan masyarakat memiliki karakter dan konteks sosial keagamaan yang khas dan berbeda.

Kerukunan hidup beragama di Indonesia telah menjadi inspirasi bagi dunia. Tidak perlu mengikuti tindakan masyarakat luar dengan konteks sosial-ideologis yang berbeda.”

Sebagai seorang Muslim yang memberikan inspirasi, menurut Profesor Komaruddin, insiden ini sebaiknya “tidak direspons dengan kemarahan”.

“Mereka tidak mengetahui isi dari Al-Qur’an. Jawablah dengan prestasi keilmuan dan peradaban. Atau seperti yang ditunjukkan oleh Putri Ariani,” katanya, merujuk pada penyanyi Indonesia yang baru-baru ini menjadi perbincangan di kalangan warganet karena mendapatkan golden buzzer dalam acara America’s Got Talent musim ke-18.”