Paus Benediktus XVI Wafat pada Usia 95 Tahun di Vatikan

DIKSI NEWS1 Dilihat

DiksinasiNews.co.id, Vatikan – Lonceng berdentang di seluruh Kota Vatikan saat berita kematiannya tersebar. Paus Benediktus XVI wafat pada usia 95 tahun. Ia menghembuskan nafas terakhir di kediamannya, yaitu di sebuah biara terpencil di Vatikan pada Sabtu (31/12). Pengunduran diri dirinya pada 2013 lalu, menjadikan paus pertama dalam 600 tahun sejarah gereja Katolik.

Melansir dari Reuters, Vatikan mengatakan jenazah mantan Paus Benediktus XVI wafat itu, akan disemayamkan mulai Senin (2/1/2023) di Basilika Santo Petrus. Paus Benediktus XVI wafat membuat seluruh umat khatolik di seluruh dunia berkabung.

Rencananya, pemakaman Paus Benediktus akan dilaksanakam pada (5/1/2023) Pagi waktu Vatikan. Paus Fransiskus akan memimpin langsung upacara pemakaman tersebut, di alun-alun depan Basilika Santo Petrus.

“Dengan kesedihan saya menginformasikan kepada Anda bahwa Paus Emeritus, Benediktus XVI, meninggal dunia hari ini pukul 09.34 di Biara Mater Ecclesiae di Vatikan,” kata juru bicara Vatikan, Matteo Bruni, dalam sebuah pernyataan Sabtu, (1/1).

Awal pekan ini, Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa pendahulunya “sakit parah.” Bruni mengatakan dia telah menerima ritus terakhirnya, yang disebut “pengurapan orang sakit,” pada Rabu.

Para pemimpin negara mengucapkan rasa belasungkawa yang mendalam atas kepergian Paus Benediktus, yang merupakan paus dari Jerman pertama dalam kurun waktu 1.000 tahun terakhir.

Selama hampir 25 tahun, ketika menjabat menjadi Kardinal Joseph Ratzinger, Benediktus adalah kepala kantor doktrinal Vatikan yang berkuasa.

Ia terpilih menjadi paus pada 19 April 2005 untuk menggantikan Paus Yohanes Paulus II yang memerintah selama 27 tahun.

Skandal pelecehan anak menghantui sebagian besar kepausannya, tetapi dia dipuji karena memulai proses untuk mendisiplinkan atau memecat pendeta yang terlibat kasus tersebut.

Namun Paus Benediktus sendiri mengakui bahwa dia adalah seorang pemimpin yang lemah. Ia mengatakan hal tersebut menunjukkan “kurangnya tekad dalam memerintah dan mengambil keputusan,” selama delapan tahun kepausannya yang ditandai dengan salah langkah dan skandal kebocoran.