Pria Ngaku Nabi yang Tembaki Kantor MUI Diotopsi Tim Dokter Secara Psikologis Retrospektif

DIKSI NEWS1 Dilihat

DiksiNasinews.co.id, Jakarta – Tim dokter akan melakukan autopsi psikologis retrospektif terhadap jenazah pelaku penembakan di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), seperti yang disampaikan oleh Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Hengki Haryadi. Autopsi ini dilakukan dengan kerja sama laboratorium forensik dan asosiasi psikologi forensik untuk mendalami profiling lengkap baik psikologis maupun perilaku tersangka.

“Malam ini kami juga berkoordinasi dengan asosiasi psiikologi forensik untuk melaksanakan autopsi psikologis retrospektif, mendalami profiling lengkap baik psikologis maupun perilaku tersangka,” kata Hengki, Selasa (02/05/2023) malam.

Metode autopsi tersebut secara konseptual akan mampu menarik motif pelaku berinisial M itu. Polda Metro Jaya juga telah berkoordinasi dengan Polda Lampung untuk melihat data riwayat diri pelaku yang berusia sekitar 60 tahun ini.

Pelaku penembakan yang mengaku sebagai wakil nabi ini tidak termasuk atau terafiliasi dengan jaringan terorisme ataupun tergabung dengan komunitas ideologi agama yang ekstrem berdasarkan hasil koordinasi dengan Detasemen Khusus (Densus) 88.

Dalam pengungkapan kasus ini, kepolisian masih mendalami profesi keseharian pelaku dan niat jahatnya dimulai sejak 2018 lalu. Kala itu, pelaku bersurat dengan konteks akan melakukan tindakan kekerasan terhadap pejabat negeri, termasuk pejabat MUI.

Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Hengki Haryadi juga menyatakan dugaan sementara motif yang dilakukan M adalah untuk mendapatkan pengakuan bahwa dirinya adalah wakil nabi. Namun, kepolisian akan melakukan penyelidikan lebih mendalam lagi dengan melihat latar belakang psikologis dan perilaku pelaku untuk mengetahui motif yang sebenarnya.

“Ditreskrimum Polda Metro Jaya untuk mendalami dengan Polda Lampung secara komprehensif, sebenarnya apa latar belakang psikologis, perilaku, untuk mengetahui motif yang sebenarnya, dan melaksankan penyidikan lebih mendalam lagi,” lanjut Hengki.

Kepolisian berharap autopsi psikologis ini dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pelaku dan motifnya. Dengan informasi yang lebih akurat, kepolisian dapat melakukan tindakan preventif dan meminimalisir risiko terjadinya kejadian serupa di masa depan.

Petugas juga masih mendalami keseharian pelaku yang mengaku nabi tersebut. Niat Jahat pelaku sebenarnya sudah sejak lama, sekitar 2018 merupakan awal pelaku melakukan aksi teror tersebut. Pelaku menyiratkan akan melakukan perbuatan yang mengarah kepada kekerasan terhadap beberapa pejabat negara, MUI menjadi salah satu diantara sekian banyak target pelaku.

“Kalau dari yang bersangkutan seperti itu, ya ini kan masih awalnya rekan-rekan, kita bersinambungan, belum selesai,” pungkas Hengki.

Dalam kasus seperti ini, kepolisian harus melakukan penyelidikan secara komprehensif dan menyeluruh untuk mengungkapkan semua fakta dan menentukan langkah yang tepat untuk mengatasi kasus tersebut. Autopsi psikologis retrospektif ini dapat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang pelaku dan motifnya. Semoga dengan adanya kerja sama dari berbagai pihak, kasus ini dapat segera terungkap dan tidak menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak lagi di masa yang akan datang.