Menilik Dua Sisi Kehidupan Antara Ancaman dan Berkah Warga Sekitar Gunung Semeru

DIKSI FEATURE11 Dilihat

DiksinasiNews.co.id, FEATURE – Ketakutan, kegelisahan, dan kewaspadaan setiap saat adalah harga yang harus dibayar masyarakat sekitar lereng Semeru. Pasalnya tidaklah mudah hidup berdampingan dengan gunung berapi yang sarat akan tragedi ini.

Namun di balik tragedi yang acap kali terjadi di semeru, keberkahan sumber daya alam dan kesuburan lahan yang ia berikan juga tentunya membuat warga bertahan.

Selain menjadi surga bagi warga yang memacu asa keringat lewat sektor pertanian, gunung semeru juga mengiming-ngimingi para pelaku sektor usaha makro untuk saling berebut mengeruk sumber daya alamnya. Salah satunya adalah pasir nonlogam yang menjadi salah satu hasil tambang.

Gunung Semeru terletak di Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur. Dengan tinggi Puncak Mahameru 3.676 mdpl, Gunung Semeru menjadi gunung tertinggi di Pulau Jawa.

“Sumber Daya Alam yang Potensial”

Atap pulau Jawa ini memiliki material pasir dan batu di sepanjang aliran sungainya merupakan kekayaan alam tersendiri.

Derasnya kiriman material Semeru menyebabkan ketebalan pasir di sungai terus meninggi.

Dengan luas 82,50 hektare areal bahan tambang/galian pasir dan batu bangunan memiliki volume 5.976.625 m³.

Terdapat sekitar 15 hektare areal pasir dan batu yang di eksploitasi dengan volume 239.065 m³ atau hanya 4 persen dari kapasitas yang tersedia.

Lokasi penambangan pasir dan batu pun cukup banyak, di antaranya di sepanjang Kali Rejali, Kali Regoyo, dan Kali Glidig, tepatnya berada di Kecamatan Candipuro, Pasirian, dan Tempursari.

Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (KTN BTS) dan obyek yang dilalui pendaki

KTN BTS memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana, dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun.

Kawasan ini merupakan bagian dari satu kesatuan ekosistem unik yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat dan kehidupan di bawahnya.

Terlepas dari kekayaan alam yang ia berikan, semeru tetap saja selalu menjadi ancaman terkait hal keamanan yang mengusik jiwa.

Erupsi Gunung Semeru

Kegundahan dan kegelisahan warga sekitar Gunung Semeru pada hari Minggu (4/12/2022) pada akhirnya datang bak mimpi buruk di siang bolong. Gunung semeru pun mengamuk hingga akhirnya erupsi dan memuntahkan awan panas.

Sebanyak 1.979 jiwa pun mengungsi di 11 titik imbas erupsinya Gunung Semeru.

Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memerinci 11 titik pengungsian itu meliputi 266 jiwa di SDN 4 Supiturang, 217 di Balai Desa Oro-oro Ombo, 119 di SDN 2 Sumberurip, 228 jiwa di Balai Desa Sumberurip.

Masih melansir data dari sumber yang sama, Kemudian, 131 jiwa di Balai Desa Penanggal, 52 di Pos Gunung Sawur, 216 di Balai Desa Pasirian, 150 di Lapangan Candipuro, 600 jiwa di kantor Kecamatan Candipuro dan sisanya di SMPN 2 Pronojiwo.

Sejumlah desa juga terdampak awan panas guguran (APG) erupsi Gunung Semeru. Wilayah yang terdampak APG Gunung api Semeru meliputi Desa Capiturang dan Sumberurip di Kecamatan Pronojiwo, Sumbersari di Rowokangkung, Penanggal dan Sumberwuluh di Kecamatan Candipuro dan Desa Pasirian.

Hingga siaran pers ini terbit, belum ada laporan mengenai jatuhnya korban jiwa.

Tim gabungan dari BPBD Lumajang, Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan lintas instansi terkait terus melakukan upaya penyelamatan, pencarian, dan evakuasi.

PMI dan Dinas Sosial membagikan 10 ribu lembar masker kain, 10 ribu lembar masker medis dan 4.000 masker anak untuk mengurangi dampak risiko kesehatan pernapasan akibat abu vulkanik. Sementara itu, pendirian dapur umum sedang dalam proses pembuatan.

Berkah semeru dalam hal memberikan rezeki kepada masyarakat memang luar biasa. Roda ekonomi bergulir dengam baik. Akan tetapi di saat terjadi kemalangam seperti ini, warga harus tetap meningkatkan kewaspadaan.

Tentunya alangkah baiknya kita sesama, sebangsa dan se-tanah air, wajib mendoakan agar saudara-saudara kita yamg berada di sekitar semeru bisa tabah dan jiwanya bisa terselamatkan.