Parasomnia, Penyebab , Akibat dan cara Penangulangannya Simak Disini Saja!

DiksiNasinews.co.id – Dewasa ini kebiasaan warganet dalam menghadapi masa transisi dari hal – hal  konvensional ke dunia maya, rupanya mempengaruhi beberapa perilaku normal yang cenderung menjadi penyakit.

Peneliti dan ahli psikologis menyebut fenomena baru ini sebagai Parasomnia, yang banyak merambah remaja serta beberapa orang yang mempunyai ketergantungan akan gawai.

Apa itu Parasomnia?
  1. Gangguan tidur yang menyebabkan perilaku tidak biasa terjadi saat Anda baru tidur, sedang tidur, atau saat terbangun dari tidur. Perilaku yang tergolong parasomnia bervariasi dari segi karakteristik, tingkat keparahan, hingga frekuensinya.
  2. Berupa berbagai hal seperti gerakan, perilaku, emosi, persepsi, hingga mimpi yang tidak biasa. Namun, biasanya penderita tetap dalam keadaan tidur sepanjang kejadian tersebut berlangsung.
  3. Terjadi setelah fase tidur terlelap, tetapi juga bisa terjadi di antara fase tertidur dan terbangun. Pada saat transisi ini, Anda membutuhkan stimulus yang cukup kuat untuk bangun. Akan tetapi, setelah terbangun, Anda mungkin tidak menyadari perilaku yang terjadi saat tidur tadi, bahkan mungkin tidak mengingat apa yang telah terjadi selama tidur.
  4. Meskipun perilaku tersebut terlihat tidak biasa, tidak perlu khawatir karena parasomnia umum terjadi dan tidak terkait dengan penyakit atau gangguan mental tertentu. Namun, parasomnia dapat terjadi berulang kali dalam waktu yang lama, sehingga dapat menjadi gangguan tidur yang kompleks.
  5. Dapat terjadi pada siapa saja, tetapi kelompok usia anak-anak paling sering mengalami gejala dari gangguan tidur yang satu ini.
Bagaimana Cara Mengatasi Parasomnia?
  • Gejala parasomnia yang bervariasi memerlukan penanganan yang sesuai dengan gejala yang muncul pada masing-masing penderita. Diagnosis parasomnia melibatkan pengecekan riwayat gangguan tidur lain, kondisi medis, penggunaan obat sebelumnya, kondisi kejiwaan, dan penyalahgunaan obat dan alkohol.
  • Beberapa gangguan yang melibatkan aktivitas Rapid Eye Movement (REM) pada seseorang perlu ditangani dengan pemeriksaan untuk mencari tahu adanya potensi gangguan pada sistem saraf pusat.
  • Penanganan parasomnia secara serius mungkin diperlukan apabila aktivitas akibat parasomnia dapat membahayakan penderita dan orang sekitar.
  • Anda dapat menciptakan lingkungan yang aman ketika mengalami parasomnia dengan menggunakan tempat tidur yang tidak terlalu tinggi, memasang kunci pada pintu kamar tidur, dan menghilangkan benda yang berpotensi menyebabkan seseorang terjatuh atau tertimpa sesuatu.
  • Selain itu, efek parasomnia juga dapat diminimalkan dengan cara memperoleh jam tidur yang baik dan teratur, mengonsumsi obat yang dianjurkan oleh dokter dengan tepat, menyesuaikan waktu tidur jika memiliki pekerjaan dengan waktu bergantian atau shift, dan menghindari penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan.

 

Jenis gangguan parasomnia
  • Tidur sambil berjalan (sleepwalking)

Bentuk gangguan parasomnia bernama lain somnambulisme ini muncul saat Anda keluar dari tempat tidur dalam kondisi masih tidur. Meski begitu, Anda tetap bisa menyadari dan bisa merespons dengan baik lingkungan sekitar saat sedang tidur sambil berjalan.

  • Confusional arousal

Merupakan kebingungan saat terbangun. Saat mengalaminya, Anda akan melalui proses berpikir yang sangat lama untuk menyadari dan mengenali keadaan sekitar. Biasanya, orang yang mengalami kondisi ini berpotensi mengalami jantung berdetak cepat hingga napas tak beraturan.

  • Mimpi buruk

Merupakan jenis parasomnia yang mungkin Anda alami. Mimpi buruk dapat terjadi berulang kali, sehingga berpotensi menyebabkan Anda mengalami kecemasan dan kesulitan untuk tertidur.

  • Night terror

Jenis parasomnia yang membuat Anda merasa takut dan berperilaku abnormal saat tidur. Selain berteriak, Anda mungkin saja memukul atau menendang dalam tidur. Kondisi ini bisa bertahan mulai dari 30 detik hingga tiga menit lamanya. Namun, saat terbangun dari tidur, Anda mungkin tidak menyadari telah melakukan perilaku abnormal tersebut saat tidur.

  • Sleep paralysis

Gangguan parasomnia yang sering disalahartikan sebagai “ketindihan” makhluk halus. Ini adalah kondisi medis, biasanya anda akan kesulitan menggerakkan tubuh saat baru mulai tertidur atau saat terbangun. Kondisi ini juga bisa terjadi beberapa kali dalam sekali tidur.

  • Enuresis Enuresis

Terjadi pada orang dewasa akibat tidak dapat mengontrol aktivitas urinasi saat tertidur. Gangguan ini terjadi akibat gagal bangun saat kandung kemih sudah terasa penuh. Anda bisa mengalaminya karena keturunan, mengalami diabetes, infeksi saluran kencing, sleep apnea, serta beberapa gangguan kesehatan mental seperti stres.

  • Mengigau

Meskipun tidak ada efek buruk secara langsung terhadap kesehatan Anda, mengigau dapat mengganggu orang sekitar yang mendengarnya. Biasanya, mengigau dapat terjadi akibat stres yang sedang Anda alami, demam tinggi, atau saat mengalami berbagai gangguan tidur lainnya.

  • REM Sleep Behavior Disorder Rapid Eye Movement (REM)

Dapat menyebabkan seseorang memiliki perilaku abnormal dengan menggerakkan anggota badan seperti menggerakkan tangan dan kaki. Berbeda dengan tidur sambil berjalan atau mengalami night terror, Anda dapat mengingat jelas detail dari mimpi yang muncul saat tidur ini.

  • Exploding Head Syndrome (EHS)

Sindrom kepala meledak (EHS) terjadi dengan persepsi mendengar suara keras seperti ledakan saat akan mulai tertidur atau saat terbangun. Kondisi ini tentu sangat mengganggu. Untuk meringankan gejalanya, cobalah untuk mendapatkan tidur yang cukup setiap malam.

  • Bruksisme Bruxism (bruksisme)

Ditandai dengan gerakan menggesekkan gigi pada rahang atas dan bawah secara berlebihan dalam keadaan tak sadar. Kondisi ini dapat mengakibatkan rasa lelah dan tak nyaman pada otot gigi dan rahang. Bahkan, kondisi ini dapat menyebabkan luka pada bagian gusi jika Anda tidak menghentikannya.

Berikut beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda mengalami parasomnia.
  • Usia Beberapa parasomnia, seperti berjalan saat tidur dan mengompol, cenderung sering terjadi pada anak-anak. Meski begitu, sebagian anak yang mengalaminya bisa mengatasi kondisi ini. Bila tidak, segeralah hubungi dokter.
  • Faktor genetik Parasomnia juga bisa terjadi karena adanya faktor keturunan dalam keluarga. Artinya, jika salah satu saudara atau orangtua mengalami kondisi ini, bisa jadi Anda juga mengalami hal yang sama.
  • Stres Saat berada dalam tekanan atau sedang stres, Anda rentan mengalami kondisi ini. Biasanya, yang sering muncul ialah tidur sambil berjalan. Kondisi ini akan berhenti saat Anda berhasil mengelola stres dengan baik.
  • Post-traumatic stress disorder (PTSD) Hampir 80% pasien PTSD mengalami mimpi buruk selama tiga bulan lamanya. Oleh sebab itu, Anda akan rentan mengalami gangguan parasomnia ini saat mengalami PTSD.
  • Penggunaan obat-obatan Mimpi buruk termasuk efek samping yang mungkin muncul akibat penggunaan obat-obatan tertentu. Oleh sebab itu, Anda mungkin saja mengalami parasomnia saat mengonsumsi obat-obatan tersebut.
  • Penyalahgunaan alkohol Tidur sambil berjalan, night terror, dan jenis parasomnia lainnya mungkin Anda alami jika melakukan penyalahgunaan alkohol. Bahkan, mengonsumsinya juga dapat memperparah gejala parasomnia yang sedang Anda alami.