Resensi Buku : Robert Michels, Hukum Besi Oligarki

OPINI DIKSI47 Dilihat

Diksinasinews.co.id – Meningkatnya oligarki merupakan salah satu fenomena paling menonjol di tengah perkembangan politik Indonesia.

Terlepas dari sudut pandang positif maupun negative, dalam beberapa tahun terakhir peningkatan politik oligarki semakin menjamur dari mulai tingkat pusat hingga daerah.

Sedangkan lembaga dan pengamat politik Indonesia sering menyebutk bahwa Oligarki sebagai salah satu indikator utama kemunduran demokrasi Indonesia.

Prof Dr Azyumardi Azra MA CBE, Guru Besar Sejarah Peradaban Islam Fakultas Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam jurnalnya menjelaskan, meningkatnya oligarki yang hampir tidak terbendung terlihat dalam sejumlah langkah politik pejabat publik puncak dan elit politik di lingkungan eksekutif dan legislatif.

Mereka yang bisa disebut ‘oligark’ (oligarch) politik, sering mengambil keputusan menyangkut kepentingan publik dan hajat orang banyak di dalam lingkaran mereka sendiri.

Oligarki politik tidak melibatkan warga, tokoh, masyarakat madani, asosiasi dan serikat profesi, ormas dan LSM.

Robert Michels, seorang pengajar dan sekaligus politikus, memutuskan keluar dari Partai Sosial Demokrat Jerman. Ia kecewa, karena partai tersebut hanya diatur oleh segelintir elit. Tidak ada sebuah transaksi demokratis yang benar-benar menghitung suara akar rumput.

Dalam alam pikirnya, partai bukan seperti itu. Partai harusnya mengembangkan arah politiknya berlandaskan aspirasi dan kepentingan masyarakat, kader dan para pendukungnya.

Dalam bukunya On the Sociology of Political Partiesin Modern Democracy: a Study on Oligarchic Tendencies in Political Aggregations, Michels menyebut kondisi partai yang seperti itu sebagai hukum “Besi oligarki”.

Menurut Michels, nyaris tidak ada satu partai pun yang tidak terhinggapi oleh penyakit yang bernuansakan elitisme. Michels melihat dalam kiprah riil partai politik, dunia partai adalah dunia kaum elite dengan watak otokratik.

Hukum besi oligarki ini salah satunya melekat pada sosok Benito Musollini. Seorang diktator asal Italia.

Awalnya, Musollini adalah seorang pemimpin yang lahir dari rakyat. Namun, setelah berkuasa, ia terjebak oleh hukum besi oligarki. Perlahan, ia mulai bertransformasi menjadi diktator paling besar dalam sejarah Italia.

Kasus di Indonesia

Hukum besi oligarki di Indonesia menghendaki siapa pun yang ingin menjadi pemimpin harus menggunakan kendaraan oligarki.

Maka, masyarakat kemudian menyaksikan banyak tokoh-tokoh rakyat lahir, tetapi dalam kepemimpinannya seakan hanya mementingkan kelompok elite saja.

Sosok Joko Widodo (Jokowi) menjadi contoh yang paling dekat. Belakangan ini agak sulit untuk mengatakan Jokowi tidak terperangkap dalam hukum besi oligarki.

Keengganannya untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) mencabut UU KPK hasil revisi dan dukungannya terhadap UU Cipta Kerja menunjukkan isyarat demikian.

Sikap Jokowi yang demikian itu tentu bertolak belakang dengan citra yang ia bangun selama ini, yaitu pemimpin yang sederhana dan merakyat.

Oligarki di Daerah

Seperti terjadi di daerah, saat menjelang pemilihan legislatif contohnya, partai politik kini tengah mengamankan klannya masing-masing. Parpol lebih banyak memilih bakal calon legislatifnya (bacaleg) sesuai arahan yang terkuat di partainya, tanpa melakukan riset ataupun jajak pendapat dengan masyarakat.

Kenyataan ini jelas terlihat dalam proses legislasi di DPR sejak perubahan UU No 30/2002 KPK menjadi UU No 19/2019 tentang KPK; perubahan UU No 4/2009 tentang Minerba menjadi UU No 3/2020 tentang Minerba; dan pengajuan RUU Omnibus Law sejak Oktober 2019 menjadi UU 11/2020 tentang Cipta Kerja.

Banyak masyarakat yang malah terjebak dan tergiur untuk masuk ke lingkaran Oligarki politik. Seperti contohnya Aktivis, Tokoh Wartawan, Pengusaha, Tokoh agama, Tokoh Pemuda yang terbujuk rayuan Oligarki politik, penguasa yang bersemayam di tubuh parpol.

Dosen FISIP Universitas Pasundan, Wim Tohari Daniealdi dalam artikel di tempo (02/10/2019) mengatakan setiap pemimpin yang lahir di alam demokrasi secara procedural pastilah berasal dari rakyat.

Hanya, lanjut Wim, setelah berada di puncak kekuasaan, para pemimpin rakyat tersebut tersandera oleh kebutuhan sistem yang disebut dengan oligarki.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Firman Noor dalam artikel yang ia tulis di sindonews.com (31/01/2015) mengatakan ada lima hal yang menyebabkan hukum besi oligarki menguat di Indonesia.

5 penyebab hukum besi oligarki menguat di Indonesia : 

Pertama, partai di Indonesia memang “milik” segelintir orang. Menurut Firman, hal seiring dengan bergantungnya kehidupan partai kepada mereka yang memiliki kekuatan finansial. Akibatnya, para “pemegang saham”, yaitu para elite mempunyai peluang lebih besar dalam berkiprah.

Kedua, lemahnya kaderasi partai yang berimplikasi kepada ketidakjelasan jenjang karier di partai dan berkembangnya pendekatan pragmatism.

Ketiga, adanya porsi lebih kepada jajaran elite dalam menentukan hidup mati partai. Firman menyebut dalam labirin struktur yang oligarkis ini, elite partai bergerak nyaris tanpa kontrol.

Keempat, aturan main yang belum seutuhnya menopang demokratisasi partai. Dalam hal ini, Firman memberi contoh pengaturan keuangan partai oleh UU Partai Politik.

Menurut Firman, hal ini memberikan peluang bagi para kader yang juga pengusaha besar untuk mengukuhkan perannya dalam partai. Ia memiliki kesempatan untuk menyumbang sejumlah uang tanpa bata.

Kelima, ”pasar” atau pemilih yang tidak kritis. Menurut Firman kondisi ini kerap dimanfaatkan oleh partai-partai dalam mendulang suara di pemilu.

Saat ini banyak partai yang terjerembab dalam lingkar elitisme dan oligarki justru berhasil baik dalam pemilu. Situasi ini tentu saja tidak memberikan stimulus bagi partai untuk memperbaiki diri.[MN]

2 komentar

Komentar ditutup.