Tragedi Ledakan di Smelter Nikel Morowali: Pertanyaan Mengapa Kecelakaan Kerja Terus Berulang?

Tragedi Ledakan di Smelter Nikel Morowali: Buruknya Keselamatan Kerja dan Tuntutan Kompensasi yang Wajar

DIKSI NEWS2 Dilihat

DiksiNasi, Morowali – Smelter nikel di Morowali Industrial Park (IMIP) menjadi saksi tragedi yang menewaskan belasan orang akibat ledakan tungku milik PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS). Dari korban, empat orang merupakan tenaga kerja asing (TKA) dan sembilan pekerja lokal, sedangkan 46 orang lainnya mengalami luka.

Kejadian ini memunculkan pertanyaan serius tentang prosedur keselamatan kerja di industri smelter. Arko Tarigan dari Trend Asia menyatakan bahwa kecelakaan kerja dengan korban jiwa adalah kejadian berulang di kawasan industri tersebut tanpa adanya evaluasi yang jelas.

Menurut investigasi sementara, ledakan Smelter Nikel Morowali terjadi karena adanya cairan pemicu ledakan saat sejumlah pekerja melakukan perbaikan tungku. Hal ini menyebabkan ledakan yang tragis pada Minggu (24/12) sekitar pukul 05.30 WITA.

Dalam kurun 2015 hingga 2022, Trend Asia mencatat 53 kematian pekerja smelter di Indonesia, termasuk di IMIP, dengan 13 di antaranya TKA asal China. Arko mengkritik bahwa evaluasi terhadap kasus-kasus sebelumnya tampak tidak jelas, dengan kompensasi yang diberikan seolah mengakhiri masalah.

Pernyataan dari PT IMIP menyebutkan bahwa penyebab ledakan di Smelter Nikel Morowali adalah adanya cairan. Ini menjadi, pemicu ledakan yang belum tertangani saat proses perbaikan tungku. Hal ini menyoroti kelemahan dalam prosedur keselamatan.

Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi serta Kementerian Ketenagakerjaan berjanji untuk mengirim tim investigasi guna menelusuri penyebab insiden ini. Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves, Septian Hario Seto, menyatakan bahwa pelanggaran aturan akan segera mendapatkan tindak lanjut.

Sementara keluarga korban meratapi kehilangan, termasuk La Ode Abdul Mursalim, yang menjadi salah satu korban ledakan Smelter Nikel Morowali. Laode M. Syarif, komisioner KPK periode 2015-2019, menyampaikan duka cita atas kepergian sepupu keduanya yang baru saja lulus kuliah.

Pertanyaan mengapa kecelakaan kerja terus terjadi menjadi fokus, dan permintaan keluarga korban adalah “kompensasi yang wajar dan bukan ala kadarnya.” Kritik terhadap kurangnya evaluasi dan peningkatan keselamatan kerja menjadi sorotan dalam tragedi ini.